Di balik pegunungan tinggi yang sulit ditembus manusia, terdapat sebuah kawasan hutan yang disebut oleh warga sebagai Hutan Dalam. Tempat ini tidak memiliki jalur resmi, tidak ada penanda, dan hampir tidak pernah dikunjungi kecuali oleh mereka yang benar-benar tersesat atau terlalu berani.
Namun dari semua cerita yang beredar, ada satu hal yang paling membuat orang enggan mendekat: keberadaan binatang yang tidak pernah dikenali siapa pun.
Makhluk itu tidak memiliki nama. Tidak ada catatan ilmiah. Tidak ada penjelasan yang masuk akal. Yang ada hanya cerita dari para pemburu yang selamat—atau setengah selamat.
Kisah paling terkenal berasal dari seorang pemburu bernama Raka yang memasuki Hutan Dalam bersama dua rekannya untuk mencari jejak rusa besar yang sering terlihat di pinggiran hutan.
Hari pertama perjalanan mereka berjalan normal. Jejak hewan terlihat jelas, dan suara alam masih terdengar seperti hutan biasa. Namun memasuki hari kedua, semuanya mulai berubah.
Tidak ada lagi suara burung. Tidak ada serangga. Bahkan angin pun terasa tidak bergerak.
Yang tersisa hanya keheningan yang terlalu sempurna.
Pada malam itu, Raka melihat sesuatu yang pertama kali membuatnya merasa tidak yakin dengan apa yang ia ketahui tentang dunia.
Di antara pepohonan, ia melihat gerakan cepat—terlalu cepat untuk hewan biasa. Bayangannya besar, tetapi bentuknya tidak stabil. Kadang terlihat seperti berjalan dengan empat kaki, kadang seperti menyeret tubuhnya di tanah.
Rekannya yang lain tidak melihat apa pun. Namun jejak baru mulai muncul di tanah lembab.
Jejak itu tidak seperti kaki hewan yang dikenal manusia.
Bentuknya seperti campuran cakar, telapak, dan tekanan berat yang tidak beraturan.
Malam semakin gelap, dan api unggun mereka tiba-tiba mengecil tanpa sebab. Kayu yang mereka kumpulkan seolah “habis” terlalu cepat, seperti sesuatu sedang menyerap panasnya.
Lalu suara itu muncul.
Geraman rendah. Sangat dalam. Tidak berasal dari satu arah, tetapi seperti mengelilingi mereka dari segala sisi.
Salah satu rekan Raka tiba-tiba berteriak saat melihat sesuatu di balik kabut. Namun sebelum sempat menjelaskan, ia terseret masuk ke dalam kegelapan tanpa suara.
Tidak ada jeritan lanjutan. Tidak ada perlawanan.
Hanya sunyi.
Raka dan satu rekannya yang tersisa langsung melarikan diri tanpa arah. Namun Hutan Dalam tidak memberi jalan keluar yang jelas. Semua jalur terlihat sama, semua pohon tampak bergerak pelan seolah mengubah posisi.
Keesokan paginya, Raka ditemukan sendirian di pinggir hutan oleh tim pencari. Rekannya tidak pernah ditemukan.
Saat diperiksa, Raka tidak mampu menjelaskan apa yang sebenarnya ia lihat. Ia hanya terus mengulang satu kalimat yang sama:
“Bukan hewan… itu bukan hewan.”
Beberapa hari setelah kejadian itu, penduduk desa mulai menemukan hal yang lebih aneh. Ternak mereka hilang tanpa jejak, tetapi tidak ada tanda serangan biasa. Yang tersisa hanya jejak besar yang tidak bisa diidentifikasi.
Sejak itu, Hutan Dalam semakin dijauhi. Tidak ada lagi pemburu yang berani masuk terlalu jauh.
Namun beberapa orang yang tinggal di pinggir hutan masih mengaku mendengar suara gerakan berat di malam hari. Seolah sesuatu yang tidak pernah tercatat sedang berjalan perlahan di antara pepohonan.
Dan setiap kali kabut turun, mereka selalu merasakan hal yang sama:
bahwa binatang itu tidak pernah benar-benar pergi…
hanya menunggu giliran berikutnya.